Syarat Diterimanya Amal

HomeLandasan AgamaAqidah

Syarat Diterimanya Amal

Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa amal shalih adalah amalan yang memenuhi tiga kriteria. Ketika salah satu dari tiga ini tidak ada, maka amalan itu tidak akan ada manfaatnya pada hari kiamat.

Tiga hal tersebut adalah:

Pertama: Sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam .

Allâh Ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh amat keras hukumannya. (QS. Al-Hasyr/59:7)

Allâh Ta’ala juga berfirman:

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allâh. (QS. An-Nisa’/4:80)

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allâh, ikutilah aku, niscaya Allâh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran/3:31)

Kedua: Amalan tersebut dilakukan ikhlas karena Allâh

Allâh Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah/98:5)

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ ﴿11﴾ وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ ﴿12﴾ قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿13﴾ قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُ دِينِي ﴿14﴾

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya beribadah kepada Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (11) Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”. (12) Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Rabbku”. (13) Katakanlah, “Hanya Allâh saja yang aku beribadah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku (14)”. (QS. Az-Zumar/39:11-14)

 

Ketiga: Perbuatan itu dilandasi dengan akidah yang benar, karena amal perbuatan ibarat atap bangunan dan akidah seperti pondasinya.

Allâh Ta’ala berfirman:

وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Barangsiapa mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (QS. An-Nisa’/4:124)

Dalam ayat ini, Allâh Ta’ala mengaitkan amalan itu dengan firman-Nya : وَهُوَ مُؤْمِنٌ (dan dia sedang dalam keadaan beriman).

Tentang amalan yang dilakukan oleh selain kaum Mukmin, Allâh Ta’ala berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al-Furqan/25:23)

Allâh Ta’ala juga berfirman:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Mareka itulah orang-orang yang tidak memperoleh (apa-apa) di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Hud/11:16)

Dan masih banyak ayat-ayat lain tentang hal ini.

Wallâhu a’lam.

 

Sumber : Majalah As-Sunnah Edisi 10 Th. 2020

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: