Punya Tanggungan Hutang Tapi Bersedekah ?

HomeMuamalah

Punya Tanggungan Hutang Tapi Bersedekah ?

Saya pernah mendengar dari sebagian orang menyatakan bahwa sedekah dari orang yang punya tanggungan hutang itu tidak diterima, dan ia tidak mendapat pahala sedekah. Apakah anggapan ini benar? Dan apakah kewajiban syar’i yang tidak dibebankan atas orang yang punya hutang, sampai ia melunasi hutangnya?

Sedekah termasuk bentuk infak yang diperintahkan dalam syariat dan salah satu bentuk ihsan (berbuat baik) kepada sesama hamba Allâh, bila sedekah itu dilakukan dengan tepat. Seseorang akan mendapatkan pahala amalan tersebut. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

كلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

Setiap manusia akan berada di bawah naungan sedekahnya sampai perkara-perkara manusia diputuskan -pada hari kiamat kelak- (HR. Ahmad)

Dalam hadits yang lain Rasulullah juga bersabda :

ظِلُّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ

Naungan orang yang beriman pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)

Sedekah itu diterima, bila syarat-syarat diterimanya sedekah terpenuhi, baik pelakunya punya hutang, atau tidak. Syarat ini adalah:

Dilakukan dengan ikhlas karena Allah, berasal dari usaha yang baik dan dilakukan secara tepat dan benar.

Dengan syarat-syarat ini sedekah diterima sesuai dengan tuntutan dalil-dalil syar’i. Tidak disyaratkan dalam bersedekah, seorang tidak punya hutang. Akan tetapi bila hutangnya bisa menghabiskan semua jumlah harta yang ia miliki, maka bukan tindakan bijaksana dan tidak logis kalau ia bersedekah – sedangkan sedekah tersebut hukumnya sunnah, tidak wajib – lalu ia meninggalkan hutang yang diwajibkan atasnya. Maka, hendaknya ia memulai dengan yang wajib, baru kemudian bersedekah.

Para Ulama berselisih pendapat tentang orang yang bersedekah, namun ia punya hutang yang jumlahnya menghabiskan semua hartanya. Di antara mereka ada yang berkata: bahwa itu tidak diperbolehkan. Karena itu akan merugikan orang menghutanginya; dan juga membuat tanggungan hutangnya yang wajib tersebut masih tetap utuh tidak terbayar. Ada lagi yang berkata: itu boleh saja. Akan tetapi menyelisihi tindakan yang lebih utama.

Bagaimanapun, seseorang yang punya hutang yang menghabiskan semua hartanya, tidak seharusnya bersedekah sampai ia membayar semua hutangnya. Karena yang wajib itu lebih penting daripada yang sekedar tathawwu’ (amal suka rela).

Sedangkan kewajiban-kewajiban syariat yang dibebaskan dari orang yang punya hutang sampai ia membayarnya; di antaranya adalah haji. Haji tidak wajib atas orang yang punya hutang, hingga ia membayar hutangnya.

Sumber : Majalah As-Sunnah Edisi 11 Tahun 2020

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: