Persaksian Bahwa Nabi Muhammad Adalah Utusan Allah

HomeAqidah

Persaksian Bahwa Nabi Muhammad Adalah Utusan Allah

Maknanya adalah mengakui dengan lisan, mengimani dengan hati bahwa Muhammad bin Abdullah Al-Qurasyi Al-Hasyimy adalah seorang rasul yang diutus oleh Allah Ta’ala kepada seluruh manusia dan jin.

Allah Ta’ala berfirman

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya:  Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahku. ( QS. Adzariyat : 56)

Dengan demikian diketahui bahwa tata cara beribadah kepada Allah Ta’ala hanya melalui wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Allah Ta’ala berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Artinya:  Maha suci Allah yang telah menurunkan Furqan (al-quran) kepada hamba-Nya Muhammad agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam ( manusia dan jin).  (QS. Al-Furqan : 1)

 

Konsekuensi syahadat :

  1. Taat terhadap perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
  2. Membenarkan seluruh berita yang beliau kabarkan
  3. Menjauhi segala sesuatu yang beliau cegah dan beliau larang
  4. Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syari’atkan
  5. Tidak meyakini bahwa beliau memiliki campur tangan dalam pengaturan alam semesta

Beliau shallallahu alaihi wasallam adalah  hamba dan rasul-Nya, hamba yang tidak berhak untuk di ibadahi, Rasul yang harus dibenarkan dan diikuti. Beliau tidak memiliki manfaat atau bahaya bagi dirinya atau orang lain kecuali dengan izin Allah azza wa jalla.

Allah azza wa jalla berfirman :

قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمْ عِندِى خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّى مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ

Artinya:  katakanlah (wahai Muhammad)  aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada pada ku, dan aku tidak mengetahui yang ghoib, dan aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat, aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. (QS. Al-An’am : 50)

Allah azza wa jalla juga berfirman:

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya:  Katakanlah wahai Muhammad aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali yang dikehendaki oleh Allah. Sekiranya aku tahu yang ghoib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanya lah pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. ( QS. Al-A’raf : 188)

Ayat-ayat diatas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad atau lainnya  tidak ada yang berhak mendapatkan  ibadah, dan bahwa ibadah adalah hak Allah azza wa jalla semata.

Kewajiban kita adalah menempatkan beliau pada posisi dan kedudukan yang telah ditentukan oleh Allah,  yaitu bahwa beliau adalah Hamba dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam

 

Diringkas dari kitab Syarah Ushulutsalatsah karangan Syaikhul Imam Muhammad bin sholih Al Utsaimin rahimahullah.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: