Mengapa Allah Menyiksa Orang Yang Bermaksiat?

HomeAqidahNasihat

Mengapa Allah Menyiksa Orang Yang Bermaksiat?

Pertanyaan:

Allâh Ta’ala menciptakan manusia dan mengetahui dengan ilmu-Nya tentang hal yang ghaib, bahwa seseorang akan binasa atau bahagia; bahwa ia seorang yang shalih atau kafir. Lalu, mengapa Allâh menyiksa hamba ketika ia bermaksiat kepada-Nya, dan memasukkannya ke neraka; padahal Allâh adalah Maha Pemberi keputusan yang adil?

 

Syaikh Shalih al-Fauzan Rahimahullah menjawab:

 

Tidak diragukan lagi bahwa Allâh Ta’ala mengetahui segala sesuatu, dan mentakdirkan segala sesuatu. Allâh Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.  (QS. Al-Qamar/ 54:49)

Allâh mengetahui mata hamba yang khianat, dan juga mengetahui apa yang disembunyikan dalam dada. Dia mengetahui apa yang dilakukan sang hamba dengan ilmu-Nya yang qadim; yang itu merupakan sifat-Nya sejak azal dan selamanya. Akan tetapi Allâh tidaklah menyiksa hamba dengan dasar ilmu dan takdir-Nya. Allâh tidak menyiksa mereka dikarenakan Allâh mengetahui bahwa mereka mengerjakan ini dan itu; atau karena Allâh mentakdirkan ini dan itu atas mereka. Akan tetapi Allâh menyiksa mereka dikarenakan amalan mereka yang diperbuat oleh mereka sendiri dengan pilihan dan kemampuan yang ada pada mereka. Seperti yang Allâh Ta’ala firmankan:

Allâh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. Al-Baqarah/2:286)

Allah Ta’ala Juga berfirman:

Dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Yâsîn/36:54)

Allâh telah menegakkan hujjah atas makhluk-Nya; yaitu dengan mengutus para rasul. Allâh Ta’ala berfirman:

dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (QS. Al-Isra’/17:15)

 

Allâh menegakkan hujjah dengan menurunkan kitab-kitab; dengan menerangkan jalan kebaikan dan memperingatkan dari jalan keburukan. Juga Allâh memberikan kemampuan dan pilihan (ikhtiar) kepada makhluk; yang dengan itu mereka beramal dan memilih amalan. Maka Allâh memberikan siksa kepada mereka didasarkan hal-hal tersebut yang diberikan kepada mereka. Allâh tidak menyiksa mereka hanya dikarenakan Allâh tahu bahwa mereka melakukan amalan-amalan tersebut. Allâh menyiksa mereka tidak lain adalah karena mereka melakukannya dan perbuatan tersebut benar-benar terwujud dari mereka; sehingga amalan-amalan tersebut muncul dari mereka, dan merekalah yang melakukannya. Dan Allâh Ta’ala Maha Pemberi keputusan yang adil; tidak menzalimi siapapun. Allâh hanyalah memberi balasan kepada hamba dikarenakan perbuatan, amalan, niat dan tujuan si hamba yang ia lakukan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS. Fushshilat/41:46)

 

Maka bila engkau tahu bahwa Allâh telah menjelaskan kepadamu mana jalan kebaikan dan mana jalan keburukan; Allâh telah memberimu kemampuan dan ikhtiar  serta kesanggupan; dan Allâh telah memerintahkan kepadamu untuk menaati-Nya; sekaligus melarangmu dari maksiat kepada-Nya; lalu kemudian justru engkau melanggar hal-hal tersebut; engkau justru lancang menerjang maksiat dengan ikhtiarmu sendiri (dengan pilihan sendiri), dengan suka rela dan kemampuanmu; maka sungguh engkau memang pantas menerima siksa hukuman tersebut. Dan ini sesuai dengan landasan akal dan juga syariat. Sekiranya ada seseorang menyerang dan memukulmu serta mengambil hartamu; maka tentu engkau tidak akan diam. Engkau mengerti, Allâh Maha tahu bahwa orang ini telah sewenang-wenang berbuat ini dan itu terhadapku; atau bahwa Allâh telah mentakdirkan hal tersebut. Namun meski demikian, engkau pun marah dan hendak menuntut balas dan qishash atasnya; agar keadilan ditegakkan atasnya. Sebab engkau memandang bahwa itu adalah tindak kejahatan (kriminal); bahwa itu adalah pelanggaran dan aniaya terhadapmu; dan dengan itu iapun pantas mendapatkan hukuman. Lalu; bagaimana bisa engkau menilai bahwa orang lain telah berbuat sewenang-wenang; namun di sisi lain engkau menilai engkau sama sekali tidak berbuat sewenang-wenang? Ini adalah hal yang sudah jelas bagi orang yang mau merenungi dan berpikir

 

 

_______________

lihat : Irsyad khillan; 1/ 253.
Artikel : Majalah As-Sunnah edisi 07 tahun 2019

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: