Bosan Hidup Karena Banyak Masalah

HomeNasihatTazkiyatun Nufus

Bosan Hidup Karena Banyak Masalah

Seseorang bertanya kepada Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah tentang hidupnya:

Saya menghadapi banyak problem dalam hidup, hingga membuatku merasa benci dengan kehidupan ini. Seteiap kali saya merasa kesal dan jengkel dengan hal tersebut, saya pun berdoa kepada Allâh agar Dia mengambil nyawaku sesegera mungkin. Inilah yang menjadi keinginanku sampai sekarang ini. Sebab saya melihat tidak ada solusi untuk masalah yang membelit saya, selain kemtaian, sehingga bisa melepaskanku dari siksaan  ini. apakah ini hal yang diharamkan?

 

Kemudian beliau rahimahullah menjawab:

Berangan-angan untuk mati karena sedang ditimpa masalah, ini berarti ia telah terjatuh dalam hal yang dilarang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau bersabda:

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا لِلْمَوْتِ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Jangan sekali-kali engkau mengangankan kematian karena ada bahaya yang menimpanya. Kalaupun ia harus mengangankan kematian, maka hendaknya ia mengucapkan: Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup ini adalah lebih baik bagiku. Namun bila kematian itu lebih baik bagiku, maka matikanlah aku. (Muttafaq alaih)

Maka tidak boleh bagi seseorang yang tertimpa bahaya, kesempitan atau suatu problema, tidak boleh baginya untuk mengangankan mati. Namun ia haruslah bersabar dan mengharapkan pahala dari Allâh, dan menunggu kelonggaran dan jalan keluar dari Allâh. Ini berdasarkan sabda Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيْرًا ، وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Dan ketahuilah, bahwa dalam bersabar menghadapi hal yang tidak disukai, terkandung di dalamnya kebaikan yang melimpah. Dan sesungguhnya kemenangan bersama dengan kesabaran. Dan kelonggaran ada bersama kesempitan. Dan bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan.  (HR. Ahmad 2800, dishahihkan al-Albani dalam Ash-Shahihah 2382)

Hendaknya orang yang ditimpa cobaan, apaun itu, agar ia tahu bahwa musibah-musibah tersebut sejatinya adalah penggugur dosanya. Karena seperti yang Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidak ada yang menimpa seorang Muslim; baik itu rasa lelah, sakit, kegalauan, tidak pula kesedihan, gangguan, tidak pula kegundahan, sampaipun duri yang menusuknya, melainkan dengan hal tersebut Allâh gugurkan kesalahan-kesalahannya. (Muttafaq alaih)

Dengan bersabar dan mengharap pahala dari Allâh, seseorang akan bisa menggapai kedudukan orang-orang  bersabar; yaitu kedudukan tinggi yang Allâh terangkan dalam firman-Nya (yang artinya):

dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.  (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al-Baqarah/ 2: 155- 156)

 

Adapun mengenai penanya yang memandang masalahnya tidak ada solusinya selain kematian, saya yakin bahwa itu adalah pandangan keliru. Karena kematian itu tidaklah menyelesaikan masalah. Bahkan bisa saja malah menambah masalah dan musibah. Berapa banyak orang yang mati, di mana ia tengah dirundung berbagai problem dan masalah, akan tetapi ia berlaku melampaui batas terhadap dirinya, belum mendapatkan keridhaan dan ampunan dari dosanya, belum bertaubat kepada Allah; maka kematiannya justru  mempercepat siksanya. Sekiranya ia masih hidup, dan Allâh memberinya taufiq untuk bertaubat dan beristighfar dan bersabar, serta bisa menanggung beban deritanya dengan tetap menunggu jalan keluar dari Allâh, maka tentu hal itu adalah kebaikan yang sangat banyak baginya.

Maka engkau harus bersabar dan mengharapkan pahala dari-Nya. Menunggu kelonggaran dan jalan keluar dari Allâh. karena Allâh berfirman dalam Kitab-Nya (yang artinya):

karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Asy-Syarh/94: 5-6)

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang shahih dari Beliau:

وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيْرًا ، وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Dan ketahuilah, bahwa dalam bersabar menghadapi hal yang tidak disukai, terkandung di dalamnya kebaikan yang melimpah. Dan sesungguhnya kemenangan bersama dengan kesabaran. Dan kelonggaran ada bersama kesempitan. Dan bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan.  (HR. Ahmad 2800, dishahihkan al-Albani dalam Ash-Shahihah 2382).

Dan Allâh lah tempat meminta pertolongan.

 

_______________

Fatawa Nur Ala Ad-Darb; Syaikh Utsaimin 12/ 699

Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi Khusus No.01-02 / th.2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: